WHAT IF IT'S HAPPENING //OneShot//Angst
Oneshot ini tentang perpisahan murid dengan guru/(crush)-nya(?),
kalian artikan sendiri.
Well, ini sebenernya, fanfiction dari kehidupanku sendiri, ya...
hope u guys like it.
*Semua nama disamarkan, kalo ada yang sama maafkan.
TAG : Angst 999999999999999999999999%, sisanya gatau apaan baca aja.
WHAT IF IT'S HAPPENING
Gimana kalau itu terjadi,
bener-bener terjadi.
Siang itu, sepi sekali,
daun lepas mengikuti bisik angin.
Mundur beberapa saat, Seorang gadis, sepanjang pagi melihat ke lantai bawah,
sekolah usang menopang kesunyiannya.
hatinya teriris, dengan senyum tragis yang menyeruak seiring senyum sang dambaan keluar.
Ia melihat semua,
kue, balon perpisahan, kamera, nyanyian, pelukan, ucapan.
Sang dambaan akan benar-benar pergi.
Guru, sahabat, pujaan dalam diamnya.
"Pak... jangan lupakan kami, ya!"
"Pak"
segala pujian terhanturkan, anak-anak bimbingan ekskulnya.
Sinematografi, terlihat memang, di mata mereka terdapat binar yang terbiasa menyimpan dalam kenangan.
"Terimakasih, ya, semua!"
Di atas, gedung lantai tiga, sang gadis hanya menyaksikan dengan iri.
Ia seharusnya di sana.
Tapi siapa ia?, pikirnya.
Hari berjalan, menuntun sang guru lebih dekat dengan ujung waktunya di sekolah usang itu.
Ia akan pergi.
Siang tiba, hembus angin mewarnai cerah langit yang bersukacita.
Sang gadis kembali melongok.
Acara sudah lama selesai,
Sang guru berjalan pelan ke arah parkiran motor,
hati sang gadis tak menentu, ia belum mengatakan apa-apa sampai sekarang.
Boleh jadi ini hari terakhir pertemuan mereka,
boleh jadi kedepannya mereka benar-benar tak akan bertemu lagi, kecil sekali kemungkinan.
"Asha, kejar!"
Seorang teman berteriak, menyadarkan Asha, sang gadis dari lamunan.
Asha berlari kencang menjajaki tangga ke bawah, kelas demi kelas ia lewati,
larinya tak pernah sekencang itu.
Hembus angin menapar wajah cantiknya, seakan makian.
Asha sampai, bukan sampai di tempat tujuannya.
Di lantai 2, tepat di sebelah tangga terbawah, ia terpaku di balkon, masih menyaksikan langkah sang guru.
Ia berpikir lagi, untuk apa mengejar?
Toh, dirinya bukan siapa-siapa, jangan sok akrab.
Beberapa hari kemudian, sang guru juga akan menemukan hidup baru, lupa akan semua yang terjadi saat ini dan kemarin.
Ia akan punya anak-anak baru, lingkungan baru, yang lebih seru dan berkesan.
Asha benar-benar akan lenyap di ingatannya.
"Ash..." temannya kembali mengingatkan.
Tubuhnya bergetar.
"Pak Adit!"
Sang gadis menyeru agung, yang di panggil melongok ke atas, tersenyum lebar secerah biasanya.
"Asha..." matanya menyiratkan binar kesenangan.
"Sini turun!" serunya lagi.
Asha turun tangga, langsung berhadapan dengan dambaannya saat itu juga.
"Bapak mau pergi sekarang? ehm, maksudnya bapak habis ini nggak ngajar lagi?"
"Iya, Ash, Bapak nggak ngajar di sini lagi. Kamu yang bener, ya, belajarnya di sini"
"Iya Pak, saya mau bilang terimakasih udah bantu kita semua di sini. Makasih banyak ya, Pak..."
Sang gadis bergetar sekujur tubuh, air murni menyeruak dari netra indahnya, turun bak hujan membasahi pipinya.
"Ya ampun, Ash..." sang guru ikut kehabisan kata-kata.
"Terimakasih juga, Pak, udah bantu ekskul rohis selama ini, kalau ada rapat apa-apa bapak selalu hadir, ada acara apa - apa Bapak yang bantu. Padahal Bapak bukan pembina kami, Ini kalau bapak nggak ada, kita bingung gimana...-"
Tangisnya tambah deras,
sang guru mengulurkan tangannya, menarik pundak sang gadis lembut mendekatinya.
dalam dekapannya, sang gadis hanya terisak kian kencang,
Sang guru pun ikut menangis, menyadari betapa berharga kenangannya di sekolah itu.
"Udah, Ash, jangan nangis lagi, kan nanti ada yang gantiin Bapak"
Mereka bertatapan.
"Iya, Pak, pasti ada yang gantiin, dan kita pasti nerima siapapun yang gantiin bapak, tapi suasana-nya pasti beda, Pak. nggak ada yang bisa sesabar Bapak, seramah Bapak, Bapak yang berhasil ngajarin kita buat jaga senyuman itu di segala keadaan,
Maafin kesalahan kita, ya, Pak, Saya, Mirh, Tania, Elgi, Setya, Putra, Kei segenap X-2 dan anak-anak rohis, Pak..."
"Iya, Ash, maafin Bapak juga, ya, kamu baik-baik di sekolah ini"
"Bapak juga baik-baik, ya, di sekolah baru, hati-hati di jalan, Pak."
Seiring air mata, mereka kian berjarak, dan berjalan sesuai arah masing-masing.
Komentar